Makan Pagi Romantis di tepi Pantai Kamali


Ditemani angin pagi sejuk semilir.

Lengkap rasanya sarapan pagi di tepi Pantai Kamali sebagai penutup perjalanan akhir tahun setelah mengelilingi gugusan pulau Wakatobi. Nasi Merah yang dicampur ketan ini disebut Songkolo. Saya mencampurnya dengan nasi kuning, karena nasi kuning lebih gurih dibandingkan dengan Songkolo. Tapi sejujurnya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Songkolo. Songkolo berisi nasi merah dikelilingi banyak lauk sederhana a'la makan pagi, yaitu ikan Tuna, telur bulat, mie goreng, dan taburan serundeng.


Songkolo di tepi Pantai Kamali
Songkolo
 Tak banyak yang menjual Songkolo seperti ini di Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara. Seorang teman yang baru saja saya antar kepulangannya ke Kendari telah mengenalkan saya dengan Songkolo buatan tantenya ini. Penjualnya adalah keluarga teman saya, warung makan sederhana dengan kayu ini tepat menjadi representasi untuk menjual Songkolo. Seporsi Songkolo lengkap dengan ikan dan telur bulat dihargai Rp.15000. Cukup murah untuk seporsi nasi yang katanya ukuran dua kali makan kuli bangunan ini. Warungnya dekat dengan  Mesjid Raya Buton.


Warung Songkolo di tepi Pantai Kamali
Warung Songkolo

Berjalan ke arah pantai Kamali, kami melewati pasar di tengah kota, kami berhenti tepat di perempatan jalan untuk membeli kelapa muda yang dijajakan oleh dua orang bapak tua di pinggir jalan. Sebelum mengantar Zahid ke Pelabuhan Murhum Baubau, saya dan Daeng Roni membeli dua buah kelapa segar lengkap dengan batoknya. Rencananya memang kami akan nikmati setelah mengantarkan Zahid pulang ke Kendari menggunakan kapal cepat Cantika Express. Zahid bekerja di Manila sebagai konsultan IT, sedangkan Daeng Roni bekerja di Makassar sebagai akuntan, kesamaan mereka dan saya adalah kami suka berjalan. Berjalan-jalan mengelilingi Nusantara. :D 

Kami bertiga bertemu di atas Kapal Kelimutu yang membawa kami berkeliling ke Wakatobi. 
Tour Wakatobi ini ditawarkan oleh Pelni dengan tujuan untuk memudahkan turis lokal menikmati wisata bahari yang biasanya hanya dinikmati oleh turis internasional karena mahalnya biaya perjalanan. Dengan membawa konsep Live On Board-nya para diver, kapal Pelni disulap menjadi Floating Hotel untuk para peserta tour. Tour ini diadakan selama empat hari tiga malam. Kegiatannya beragam, para peserta dapat memilih aktifitas seperti, city tour, snorkeling ataupun diving. Sayangnya, para peserta tidak bisa leluasa memilih kegiatan seperti yang saya bayangkan. Contohnya saya, disamping mengambil paket diving, saya sangat ingin melakukan city tour, sayangnya tidak ada spare waktu untuk para diver, karena semua waktu kami lakukan di bawah laut, menyelam. Jadwal juga tidak sesuai dengan itinerary, dan yang paling mengecewakan bagi saya adalah kami melewatkan dua spot paling baik di dunia karena force majour. Pulau Hoga. Saya bisa memaklumi, ini kejadian alam yang sangat tidak mungkin dihindari. Hujan deras dari pukul  4 pagi Waktu Indonesia Tengah hingga pukul 9 pagi membuat kapal kami harus bergerak meninggalkan Hoga menuju Pulau Wangi-wangi untuk mengejar acara ulang tahun Wangi-wangi yang ke sepuluh. Padahal saya sudah bersiap-siap dari semalam untuk menjadi saksi surga Tuhan yang terletak di bawah laut Indonesia ini.

Hoga, ada janji yang masih menjadi hutang. Pasti saya akan lunasi. Suatu saat. Secepatnya.

Malam sebelumnya, saat kapal kami merapat kembali ke Baubau, kami berenam dengan beberapa teman dari Makassar menyewa dua ruangan kamar besar untuk bermalam. Hotel kami tepat di seberang pantai Kamali. Di Pantai Kamali terdapat sebuah patung kepala naga simbol dari Kota Baubau. Naga disini sebagai simbol kekuatan bagi masyarakat Baubau. Sedangkan ekor naga sendiri ditempatkan di depan Kantor Walikota Baubau. Ada lagi simbol dari Kota Baubau, yaitu Nanas. Ya, buah Nanas, mengartikan bahwa semua masyarakat Baubau akan selalu hidup dimanapun mereka berada. Hidup benar-benar hidup, bukan hanya sekedar bernafas dan bergerak. Hidup memberi arti dan membuktikan kepada dunia bahwa mereka ada.

Saya dan Daeng Roni bisa melihat kapal cepat Cantika yang ditumpangi Zahid berjalan ke arah utara menuju Kendari dari tepian Pantai Kamali. Seru sekali rasanya bisa berjalan dengan para 'stranger' ini. Tidak hanya Daeng Roni dan Zahid, tetapi ada Hara dari Jakarta, Lele, Tata, dan Thenri. Saya dan Hara sudah bertemu dihari pertama saat menginjakan kaki di Baubau, sedangkan Zahid, kami menyebutnya "anak pungut" karena dari semua yang sudah mendaftar jauh-jauh hari sebelumnya, hanya dia yang baru mendaftar di H-1 sebelum keberangkatan karena kami ajak dadakan. 


Makan Pagi Romantis di tepi Pantai Kamali

Dua buah kelapa muda dan dua bungkus Songkolo bisa jadi penutup mesra perjalanan kami.
Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

0 comments :

Post a Comment