Sssttt,,,ada Kuburan dan Hutan Tersembunyi di Desa Penglipuran.

Penikmat anti-mainstream macam saya ini pantasnya disuguhi pemandangan atau objek tersembunyi. Yang lain mengagumi tata letak desa yang rapi, bersih dan tertata. Sedangkan saya, lebih memilih mengagumi sisi lainnya. Kuburan pahlawan setempat dan Hutan bambo dibelakang desa Penglipuran.
Komplek makam pahlawan Desa Penglipuran.

Desa Penglipuran terletak di utara pulau Bali. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2jam dari Denpasar, jarak tempuh 53km (google maps). Desa yang terletak di daerah Kubu - Bangli ini konon menjadi persinggahan  untuk "rest & relax" nya para raja. Siapa bilang harga tiketnya cuma Rp.7ribu?! 15ribu tau! Hahaha, *korban baca blog postingan lama. Tapi apalah arti 15ribu demi mendukung pariwisata lokal. Setelah berkeliling, saya merasa pantas membayar harga tiket masuk yang tadinya saya pikir cukup mahal itu. Experience berjalan ditengah desa adat yang nyaman, mengelilingi asrinya lingkungan pemukiman penduduk, dan terdapat beberapa daya tarik lain bagi pecinta objek anti mainstream macam saya ini. 

Masuknya dari area pintu masuk desa yang lebih terlihat seperti area parkir kendaraan pengunjung, pengelola menyediakan taman teduh dengan pohon mangga besar yang memayungi kursi-kursi batu kecil. Pilihan itu selalu sulit, seperti ayam atau telur duluan? Seperti untuk pilihan menikmati sayap kiri desa atau sayap kanan dulu.

Bendera merah-putih nya bikin nasionalisme terpecut! *Cetarrr
Saya memilih langsung bergerak ke arah kiri desa. jejeran rumah penduduk menyambut hangat para pengunjung, suasana sepi memberi ruang untuk pengunjung mengenal dan merasakan atmosfir desa yang tenang. Tidak terlalu banyak rumah disisi kiri desa dibandingkan sisi kanan. Dipojok kanan sisi sayap kiri desa berdiri sekolah dasar (SD), dan taman makam pahlawan. Taman makam pahlawan ini super sekali ambience nya. Monumen dibangun ditengahnya, untuk mengenang para pahwalan lokal yang gugur dalam perang kemerdekaan. Nak, masih mau bolos ngantor kalau sudah tau tentang perjuangan nenek moyangmu? *Seketika nasionalisme muncul! Hohoho.

Anak Agung Gede Anom Mudita, sematkan Kapten didepannya. Kapten Anak Agung Gede Anom Mudita. Gugur dalam perang Puputan Penglipuran, namanya harum dan sampai saat ini setiap tanggal 20 November diadakan upacara memperingati hari gugurnya AA GD Anom. Jatuhnya kekuasan penjajah asal negeri matahari "Jepang", membuat Indonesia kembali diduduki oleh tim gabungan penjajah Belanda (NICA dan kawan-kawannya). Perjuangan belum berakhir, tapi setelah melalui serangkaian peperangan panjang dan kucing-kucingan dari pencarian tim gabungan Belanda beliau gugur ditahun 1947 dalam perang Puputan. Dalam pekarangan taman makam pahlawan terdapat monumen pahlawan untuk mengenang AA GD Anom beserta pasukannya. Tugu Pahlawan Penglipuran.

Tugu makam Kapten AA GD Anom.
Pura dipekarangan makam.


Pekarangan makam yang besarnya kira-kira 200meter kali 100meter ini ditata rapi untuk mengenang jasa besar pahlawan lokal seperti Kapten TNI Anom dan tim nya. Terdepat sebuah bale-bale atau biasa disebut aula tapi outdoor, pura, monumen, dan lapangan rumput yang cukup besar buat bocah-bocah main bola. Nasionalisme terbakar saudara-saudara. Karena menurut Kapten Anom, merdeka itu harus seratus persen.  Kalau Cambodia punya patung kepala Budha yang tertlilit diantara akar pohon raksasa nan tua, Penglipuran tidak mau kalah. Dengan menyuuguhkan prasasti perjuangan pahlawan kemerdekaan dibawah dan diantara batang pohon besar yang meliuk-liuk. Dalam tugu batu itu dituliskan kata-kata "Merdeka Seratus Persen, Kapten TNI AA. GD Ano, 20-11-47".
MERDEKA SERATUS PERSEN.
Nah lho, masih berani bolos kerja?!
Nyihihi.

Setelah puas menikmati suasana sakral dan syahdu sayap kiri pedesaan, saya bergerak menuju sayap kanan desa. Nah, disini nih tempatnya para turis penikmat kerapian dan identitas desa Penglipuran berpose. Landskap bangunan dibuat hampir serupa, hanya dibedakan oleh tampilan pekarangan rumah saja. Saya kagum dengan penduduk yang menjaga kerapian pekarangan rumah, yang tentu saja menjadi daya tarik para turis untuk mengambil foto. Para penduduk memanfaatkan kehadiran turis untuk menawarkan hasil kerajinan tangan ataupun makanan dan minuman produksi warga setempat.
Pekarangan rumah penduduk dengan toko klontong souvenir.
Mainstream spot.
Berjalan terus disayap kanan pedesaan, maka ujungnya adalah pura persembahyangan yang ditutup untuk umum. Mungkin orang mengira pura tersebut adalah ujung dari pedesaan. Tapi siapa sangka, ternyata bukan. Belok kearah kanan, banyak objek-objek menarik yang tersembunyi. Daerah ini cukup instagram-able, pepohonan didalam hutan yang rindang, dan hutan bambu. Para pengunjung akan mengira bahwa pura tersebut adalah spot terakhir desa Penglipurang. Ternyata tidak. Kita bisa mengitari daerah belakang pura dan berbelok lah ke arah kiri. Disana terdapat hutan rindang dan sebuah tempat sembahyang kecil. Banyak pengunjung yang tidak mengetahui spot ini, maka beruntunglah bagi para eskplorer. Nikmatilah. Puas-puasin deh berpose disitu, sebelum kalian harus ngantri foto ala objek wisata yang kalau ngantri foto kaya ngantri promo pre-order hape teranyar. Haha.
Area pintu masuk hutan bambu, bisa buat istirahat manja sambil ngitungin pohon bambu nya. *Lhhohh
Nah, setelah puas dan capek berkeliling, sempatkanlah membeli minuman lokal. Jenis minuman nya seperti jamu, namanya loloh. Rasanya seperti kunyit asam, warnanya hijau, terbuat dari rumput dan akar buah loloh. Selain loloh juga terdapat minuman kunyit asam. Harganya super murah, cuma 5ribu! Nah lho. Borong! Mumpung murah, buat kesehatan juga, kesehatan perekonomian warga Desa Penglipuran. Yess...
Jalan setapak menuju pusat kota bambu.
Jangan lupa, habis minum sampah nya dibuang ke tong sampah yang disediakan ya! Tong sampahnya pun sudah dibedakan menjadi dua jenis. Organik dan non organik. Kurang keren apa coba ini desa. Bersih itu bisa bikin apapun jadi terlihat keren lho.
Mumpung sepi. *dipastikan sepi:P
Hey Kamu, siap get lost ke Desa Penglipuran? Yip-yip..
Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

9 comments :

  1. Itu... serem sih ._. kuburan semua isinya ._. duuuuh ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seseram mas Feb yang selalu dinilai dari luar gak? Hohoho. :P

      Kuburan n Hutan bambu jd nilai plus objek wisatanya mas. Kalo cuma perumahan nya aja bisa bikin bosen.
      :D

      Delete
  2. Emang nyeremin kuburannya... Tapi pas liat foto terakhir jadi adem..... :DDDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. HOHOHO.
      Adem semeriwing yaaa..

      Hello ayam ayam ayam. :P

      Delete
  3. rada serem ya mbak tempatnya, pohonya juga duhh menambah dramatis suasana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Dramatis dan bisa bikin imajinasi berasa balik ke perang Puputan.

      Delete
  4. Eh aku juga sempet minum loloh tapi agak2 gimana gitu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasa jamu ya om?
      Warnanya ijo tapi rasanya kaya kunyit asam. #bingung
      HAha

      Delete