Dialog-gue

Travelling, Teach Me Something, As Always

Saat berpergian, travelling, gue paling suka berdialog dengan warga lokal. "Kepo",  banyak tanya karena penasaran sama kehidupan warga sekitar, kegiatan sehari-hari, sampai tradisi masing-masing keluarga. Apapun itu tentang cara hidup dan aktifitas yang menghidupi mereka. Wajar, gue rasa bukan cuma gue yang begini. Para pengembara lain juga pasti begini. Toh mereka mengembara karena penasaran sama yang ada didunia yang bukan dunia mereka. Duh, akhirnya keluar bahasa yang dari dulu selalu gue pengen pake "Pengembara". Ribuan alasan mereka melalukan sebuah perjalanan. Mulai dari alasan paling remeh temeh sampai paling serius - semacam menemukan hidup baru. Menurut gue menemukan hidup baru itu serius lho, atau - menemukan gue yang baru. Apapun itu tentang menemukan kehidupan yang baru artinya seserius gue akan siap bertemu Tuhan dengan cara yang baru pula. Yes donk! Anything you will faces forward will always have a risk, right? Take it or leave it. Shit happens in life.

Ok, stop sinis Hapsari! 

Kalau diawal tadi gue bilang gue paling suka berdialog dengan warga lokal. Ada bagian lain yang jauh lebih gue suka dari itu. Berdialog dengan diri sendiri. Bertanya dan menjawab pada diri sendiri, setuju dan tidak setuju untuk semua pemikiran. Menciptakan solilokui baru dan memecahkannya.
Menjemput sunrise di desa Sembian Elek, Sembalun Lombok Utara.
Hari ini gue travels ke salah satu dusun di desa Sambik Elen, Sembalun, kaki gunung Rinjani. Selayaknya Idul Fitri, harus diisi dengan perjalanan. Kali ini gue menamainya sebagai perjalanan batin. Sama seperti "Mohon maaf lahir dan batin". Karena gue bisanya cuma numpang bonceng, gue pun harus tau diri dengan menyemangati sang supir yang selalu ngerasa "Valentino Rossi" kalo lagi nyupir. Dan disela-sela perjalanan, gue tanya dan curhat dikit sama si travel-mate. "Kalo lagi jalan begini, kamu mikirin apa sih?", "Gak ada, menikmati aja". Ini adalah bagian yang paling gue suka. Menikmati.

Duduk disini, rumah hasil bantuan pemerintah yang pembangunannya belum selesai dan bahkan belum ada jendelanya, membuat gue merasa kalau selama ini gue belajar lambat sekali. Sudah berapa tempat yang gue kunjungi semenjak kecil. Memulai solo travelling semenjak umur 12 tahun, lalu melakukan beberapa kali perjalanan sendiri, berdua, rombongan, maupun segambreng tetap membuat gue merasa masih segini-gini aja. Walau cuma tidur beralaskan tikar tipis dan dipeluk sehelai selimut tetap akan membuat gue mimpi super indah, pastinya, ini kaki gunung Rinjani. Gunung yang katanya tak akan pernah ingkar janji. Entah pada siapa dia sudah berjanji. Seharusnya, kalau sudah sebanyak itu perjalanan yang gue lakukan, dan kalau benar gue belajar dari setiap perjalanan gue, seharusnya berada di level lain kehidupan gue. Ada puncak aktualisasi lain yang harusnya sudah gue duduki. Ditemani dengan banyaknya kemampuan tanpa batas, daya imajinasi yang berlimpah lalu jadilah "Maha-daya Gue". Seharusnya. Lalu gue akan berontak kenapa gue masih duduk diam dititik ini, bergerak sedikit maju, lalu tersandung sedikit kebelakang. Bergerak sedikit memperbaiki gerakan mundur tadi, lalu sampailah dititik yang sama karena yang gue lalukan cuma maju-mundur melakukan dan memperbaiki titik maju gue. Berontak marah, lalu memaafkan diri sendiri. Membenci sementara, lalu mencintai lagi seperti biasanya.

06.22 WITA
Mungkin ada benarnya gue melakukan perjalanan ini. Mengumpulkan kekuatan untuk lebih mencintai diri sendiri. Menikmati hidup yang ada saat ini. Lalu menambahkan sirup ceri manis untuk menjadikan gue yang mereka bilang selalu antusias, ceria tapi ceroboh. Dan gue harus tetap belajar lagi. Kali ini gue harus belajar untuk lebih tegas, untuk jauh lebih berani daripada biasanya. Untuk merasakan cinta dan mencintai dengan perasaan, tetapi tidak lupa berfikir saat merasakan cinta. Untuk lebih setuju pada setiap "Iya", dan menolak dengan tegas untuk setiap kata "Tidak". Untuk lebih berani mengatakan Iya dan Tidak yang lebih cerdas. Menemukan banyak ide baru lalu menciptakannya. Menciptakan ide?

PR.
Mereka bilang sinis itu kritis. Tapi gue rasa sinis gue ini akut. Bawaan lahir mungkin. Jadi PR terbesar pulang dari perjalanan ini adalah untuk menilai baik dengan cara berfikir kritis positif. Construction, not Destruction. Biar dikata pedas, tapi gue merasa kurang pedas saat bersuara. Bisa jadi karena otak yang kurang cerdas mengolah. Terlebih lagi ribuan ide yang selalu gue lewatkan karena terlalu banyak alasan yang gue ciptakan. Entah karena menjadi procrastinator adalah hobi atau sumber daya yang belum mumpuni.

Hhmm, banyak ya. Kalau gitu, satu - persatu ya, Hapsari. :)

Untuk hidup yang jauh lebih bahagia dari biasanya.

*21.15 WITA, Dusun Pedemere, desa Sembik Elen, Sembalun, Lombok Utara.
Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

10 comments :

  1. Solilokui itu istilah baru buatku. :D

    Dirimu sudah naik ke level selanjutnya dalam aktivitas "jalan-jalan" ini. Awalnya hanya "melihat" dan kini berusaha "memahami". Pada dasarnya hidup ini kan tujuannya untuk memahami dan itu adalah perjalanan yang harus ditempuh setiap manusia. :D

    You are on the right track

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hopefully we both on the right track..

      Salah, ulangi lagi. Jelek, perbaiki. Iya, hidup itu belajar tanpa batas. Proses, jadi agak lama. Karena Yang instan cuma Indomie. :D

      Salam gowesss...

      Delete
  2. Sebuah pemikiran akan brtabrakan dgn keinginan dlm satu arah aliran suatu kehidupan...
    Bicaralh n berbincang dgn hati kecil, dia kn berikan suatu energy yg tak trbatas akibat sbuah kejenuhan. Tetap langkahkan kaki walau trtatih...
    Ketika mereka saling brbincang n bicara , lihatlah itu arah yg kamu tuju tnpa hal dri sbuah pkiran yg dpt goyahkn semngatt tuk mncpainya...
    'Semakin tinggi itu pohon semakin keras juga tiupan angin, tapi alahkah indah pohon itu ketika rimbun dan berbuah'.

    *Ansen Si Sotoy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam super ansen teguh!! :P

      Tiap orang Punya caranya sendiri untuk menikmati dirinya yang tengah bersanding dengan alam. Cara mereka sendiri buat belajar. Hidup itu seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk...

      *kangen sm mie cumi. T_T

      Delete
  3. Gw juga suka ngobrol ama penduduk lokal, belajar ttg hidup mereka untuk bisa terus bersyukur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh om, kesederhanaan mereka ngajarin kl kebahagiaan bisa diraih dengan cara yang sederhana dan dari mana pun.

      Termasuk ngeblog dan nulis lebay macam kau. Hahaha
      Makasih udh menginspirasi.
      *Kecup jilat basahhhhh.....

      Delete
  4. ngobrol dengan orang asing, dalam hal ini penduduk lokal itu gak sembarangan orang bisa, diperlukan kecerdasan "sosial interact" disini, empati dan curiosity yg lahir dari hati... *gue ngomong apa sih?* hahaha
    lanjutkan kak, apa yang kakak cari sedang menuntun kakak untuk menemukannya, selamat jalan-jalan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nice thought om. Social interact, dan curiosity. Hubungan yang dibangun lewat hati lebih dalam dan panjang masa nya. :D

      Ayo melancong om! ;P

      Delete
  5. Selain lebih mencintai diri sendiri, mari kita temukan cinta makin dalam buat sang pencipta.

    Btw kalo kamu mahadaya gue, maka mbak KD mahadaya cinta #Eeap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyelami makna mencintai lewat interaksi universe.

      Aku mau bikin lagu mahadahsyat cinta om, duet sama anang... #benar ku mencintainya tapi tak begini...NYihihi...

      Delete