Lombok, Disini Surau Kami Tak Akan Pernah Roboh

Lombok Mubarok 1437H. Ini cara saya menikmati traveling dan menyaksikan budaya merayakan hari kemenangan di Rarang, Lombok Timur.

Walaupun dibilang mainstream, mudik harus tetap ke kampung. Entah kampungnya siapa dan sama siapa. Yang penting pulang kampung, walaupun kampungnya orang. Setuju deh sama mayoritas masyarakat Indonesia yang hobi mudik untuk merayakan hari besar umat Islam bersama keluarga besar.  Kali ini saya tidak pulang ke kampung sendiri dan merayakan bersama keluarga kandung. Tapi Saya percaya, bagaimanapun cara merayakannya, Idul Fitri tetap hikmat dan penuh kasih dari Allah yang maha besar dihati umat-Nya. Ini adalah kali kedua saya traveling sambil merayakan hari raya Idul Fitri . Saya pulang kampung ke Rarang, kampung salah satu teman baik, teman baik akan menjadikan kita baik pula. Dan menghabiskan waktu dengan keluarganya, keluarga Budi. 

Pria sederhana yang bahagia dengan hidupnya ini mengajak kami untuk melihat bagaimana ia dan keluarganya merayakan hari besar Islam dikampunya. Kami tiba di Lombok tepat di hari terakhir bulan ramadhan. Hari terakhir ramadhan kami habiskan untuk berkeliling ke Pantai Pink dan Bendungan Pandan Huri. Sebenarnya, alasan saya kepo banget untuk bisa ke Lombok karena Budi bilang, "Banyak "cabe-cabean" yang muka dan tangannya beda warna di Bendungan Pandan Huri". Hahaha. Maksud Budi, disini tempat ngabuburit favoritenya muda-mudi Lombok, lalu cewek-cewek disitu pakai make up tebal yang bikin wajahnya putih banget tapi kontras mulai bagian leher sampai tangan karena warna nya tetap coklat gelap. Setelah kesini malah gak nemu yang dicari. Budi PHP! Pemberi Hoax - Palsu. Menjelang berbuka, tempat ini menjadi syahdu sekali, surau yang terletak disalah satu sudut bedungan berdiri cantik dramatis dibalut senja.
Salah satu musola disudut Bendungan Pandan Huri.
Terbiasa tinggal dikota besar membuat malam takbiran saya biasa saja. Dipenuhi gema takbir dan konvoi urakan para penggema takbir dengan truk bak terbuka yang jelas tidak aman adalah wajar. Saya lebih menikmatinya dengan duduk didalam rumah, bersama keluarga yang masing-masing dari mereka sibuk dengan persiapan perayaan lebaran. Kali ini berbeda. Di Lombok, dari sore hari sudah disiapkan panggung meriah beserta alat musik didepan setiap mesjid. Lalu berjejer  pula kendaraan pawai takbiran. Budaya melangsungkan pawai pada malam takbiran masih berlangsung di Lombok. Saya tak sabar menunggu pagi, pagi Lebaran. Solat Ied.

Saya merasa meriah pagi ini. Ibu Budi dan istrinya menyiapkan kami sarapan. Katanya, prosesi solat Ied disini panjang, dua jam. Jadi disarankan untuk makan sebelum berangkat. Makanan khas Lombok tersaji lengkap dengan ketupat dan lontong ala Lombok. Di Lombok, bentuk lontongnya berbeda seperti di Jawa yang bulat panjang. Disini bentuknya segitiga tidak sama kaki, tapi sama rasa. Ada plecing kangkung a'la rumah Budi yang rasanya dahsyat! Lalu kelak santan, mirip opor tapi lebih kental, agak pedas, dan pakai ayam kampung. Enak gak bohong dan gak promosi. Hohoho.


Ternyata benar, ini adalah proses solat Ied terlama bagi saya. Ceramah dan solatnya sebentar, tapi salam-salamannya yang lama. Tapi disini lah saya dibuat takjub. Sepotong budaya baru yang hikmat bagi saya. Selesai solat, para jama'ah langsung membuat formasi barisan rapi di area mesjid. Formasi salam-salaman ala desa Rarang, Lombok.
Prosesi salam-salaman selesai solat Ied.
Prosesi salam-salaman yang hangat, penuh senyum dan sapa. Semua yang ada di mesjid akan saling bersalam-salaman Saudara atau bukan, kenal atau tidak kenal, semua saling genggam. Disini, tidak peduli label yang menempel, bahkan imam mesjid pun ikut berkeliling menghampiri jama'ah nya.
Disini, kita memang harus bersalaman dengan orang satu kampung.
Berjabat tangan seperti ini membuat saya lebih bahagia merasakan mewahnya kesederhanaan. Bayangkan, berjabat tangan dengan setiap orang, satu kampung. Tidak ada yang sebijaksana rasa memaafkan siapa saja yang pernah ataupun belum pernah mampir dihidupmu. Baik salah atau pun tidak pernah berbuat salah. Bukankah itu makna Minal aidin wal Faidzin? :)
Tidak peduli siapa kamu, apa jabatanmu, berapa umurmu, kamu harus tetap berjabat tangan dengan siapapun. 
Saya masih takjub dengan prosesi salam-salaman antar sesama jama'ah, dan pawai takbiran. Saya sempat dibuat penasaran  oleh ibu saya, karena Ibu pernah bilang, "Kamu gak akan pernah kesulitan buat solat kalau di Lombok". Saat kapal bersandar dipelabuhan Lembar, penasaran saya luruh, dan percaya kalau saya bisa selalu merasakan kepatuhan umat pada Tuhan-nya dengan melihat mesjid, dan banyaknya surau disini. Surau-surau menyempil sederhana dipojokan kampung. Walau kata Budi, saat ini pawai dikampungnya sudah tidak semeriah lima sampai sepuluh tahun lalu. Para pemuda Lombok sudah terbang jauh meninggalkan pulau seindah lombok. Merantau ke kota-kota besar mencari kesempatan untuk mengubah nasib, "Biar sukses" katanya. Modernitas selalu mengalahkan budaya adat, dan budaya agama. Budaya sebagai idealisme. Tapi siapa bisa larang, siapa bisa paksa? Mereka berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. Lalu siapa yang bertugas menjaga budaya kampungnya? PR besar kita.

*Budi bilang, walau kami tidak sedarah, tapi kami sehati (That sweet of you, Bud!).

Saya, Roy, Ibu Budi, Budi dan Anak Budi dalam gendongan (Qinan), Istri Budi(Sulis)


Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

10 comments :

  1. Masih demikian di kampung saya di Bekasi, setelah sholat ied jamaah membuat barisan lalu salam-salaman sebelum bubar :) jadi menghemat waktu, sudah ketemu semua keluarga di masjid.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlalu lama dikota besar sampai gak tau ada tradisi kaya gini.
      Bekasi juara!
      :D

      Delete
  2. Silaturahim, punya sebuah arti walau hanya berjabat tangan tanpa tahu tapi punya makna tersendiri bagi seseorang. Senyum sapa dan jabat tangan lebih indah terasa arti sebuah kehangatan.

    *Salim ahh...
    JoAnsen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Minal Aidin wal faidzin. Sungkem lagi sini...

      Semoga silahturahmi menjaga persaudaraan kita. :D

      Delete
  3. Salaman satu kampung lelah awak nich hua hua hua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih lelah mana om sama salaman sama semua orang diruang resepsi? hahaha

      Delete
    2. Mmg ada yg ngajakin buat resepsi bareng di pelaminan ??? Hahahah

      Delete
    3. Sial,,,
      *Ya Allah, segerakanlah hambamu yang dianiaya sama si Cumilebay.

      *LOL

      Delete
  4. Aku juga pulang cuma pas lebaran ahhahah. Di rumah enak, bisa mendapatkan banyak kesempatan bareng keluarga dan tentunya bisa main sepuasnya ahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kehangatan selalu ada disetiap momen lebaran kita ya mas.
      :)

      Delete