Pawai Ogoh-Ogoh, Pemuda dan Kebudayaan


Tepat satu hari sebelum melakukan ibadah Nyepi, Bali. Para umat Hindu di Bali merayakan festival Ogoh-Ogoh. Dulu nya, pawai ini ditujukan untuk mengusir roh jahat disekitar dan membuat ibadah Nyepi menjadi suci dan damai. Tapi dewasa ini, pawai ogoh-ogoh menjadi festival tahunan yang menjadi daya tarik wisata bagi para turis mancanegara dan juga hiburan bagi warga lokal. Di jaman modern ini, pawai ogoh-ogoh merupakan manifestasi unsur ritual budaya yang bertujuan mengusir hal-hal negative dalam diri manusia. Berdasarkan pandangan religius dan filosofi nya, Nyepi merupakan hari dimana manusia melakukan intropeksi, refleksi terhadap diri sendiri. Nantinya intropeksi dan refleksi diri ini bertujuan untuk menjadikan manusia memperbaiki nilai hidup, berhubungan dengan kemanusiaan, cinta dan kasih sayang. 



Apa yang keren dari festival ini?
Peserta penggerak dari pawai kebudayaan ini adalah anak muda. Dalam satu tim terdiri dari 50-150 pemuda yang berasal dari banjar yang sama. Banjar merupakan organisasi tradisional Bali yang ditentukan berdasarkan kota administratif nya. Mungkin kita biasa mendengar komunitas untuk organisasi seperti ini. Ogoh-Ogoh adalah bentuk patung yang menggambarkan raksasa  Bhuta Kala. Raksasa, besar dan menyeramkan. Patung ogoh-ogoh diarak ketengah kota, dan ditampilkan dengan drama dan juga sendra tari yang diangkat dari cerita rakyat kepercayaan umat Hindu Bali. Barisan anak muda yang terdiri dari pembawa obor sebagai penerangan, penari, penabuh gendang, gamelan dan alat musik lainnya, dan ditengah-tengah mereka adalah pengarak ogoh-ogoh. Tak ketinggalan juga para pendukung dari banjar masing-masing. Semuanya digerakan oleh anak muda. Pengarak obor yang berjumlah sekitar 10-20 orang berada didepan dan dibelakang rombongan. Lalu dibelakang pembawa obor penari dan pemain musik sibuk dengan tarian dan musiknya untuk memeriahkan suasana. Yang paling ditunggu pasti lah tim ogoh-ogoh yang membawa patung raksasa itu sambil bersungut-sungut karena berat sekali. 



Festival ini pun dijadikan ajang lomba kreativitas yang hadiah nya jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Mungkin ini alasan anak-anak muda ini bersemangat sekali menampilkan yang terbaik dari tim banjar nya. Masing-masing tim diberi waktu 15menit untuk menampilkan kreasi ogoh-ogoh dan juga drama pementasannya. Semuanya pemuda, kecuali protokol fesitval dan narator. Dari semua yang saya saksikan, naratornya adalah pria berumur, sekitar 50 tahun bahkan lebih. Dengan suara serak dan sangat menghayati, seakan-akan narator ini mengerti kami para pendengarnya haus akan dongeng dari sang kakek. Suaranya keras, menghayati tiap dialog, suara nya berubah-ubah. Kadang halus layaknya seorang dewi, kadang keras membahana jahat bak suara raksasa. 



Salut untuk mereka, anak-anak muda yang masih semangat bergerak seirama untuk mempertahankan kebudayaanya. Yang kebudayaanya tidak tergerus modernitas, gengsi dan gaya hidup. Yang kebudayaanya menguat dan berjalan bersama modernitas. Anak-anak muda yang tergabung di banjar memiliki berbagai kegiatan rutin, hampir semua nya berhubungan dengan kebudayaan. Salah satu nya dalam berpartisipasi aktif dalam persiapan festival ogoh-ogoh.

Kontras, saya yang lama tinggal di ibu kota gak pernah melihat keramaian budaya yang digerakan oleh pemuda sebanyak ini. Ohh, ada. Tawuran antar sekolah, atau antar kampung. Ramai dan semua nya pemuda, tidak mencerminkan budaya apapun. Saya tinggal disalah satu sudut kota di Ibu kota. Di lingkungan perumahan kecil yang membatasi saya dengan dunia luar. Ini lah rugi nya saya, tidak mengenal tetangga seumuran yang bisa diajak main, hanya ibu-ibu komplek yang menyapa saat melewati rumah mereka karena mereka mengenal ibu saya. Mungkin karena anak-anak seumuran saya sudah punya tempat "hang-out" sendiri, atau mereka sudah lebih dewasa, jadi memang saya terlalu kecil saat itu untuk diajak main. Tapi itulah orang-orang ibu kota, mereka memiliki oleh dunia nya masing-masing, hanyut dalam modernitas, dan jauh dari kebudayaan yang sudah sepatutnya dilestarikan. 

Pawai ogoh-ogoh menjadi ajang refleksi diri bagi saya. Refleksi untuk lebih mengenal dan aktif melestarikan budaya daerah setempat. Karena kalau bukan anak muda seperti kita, siapa lagi?

Lalu apa yang berkesan selain pemuda dan kebudayaanya?
SAMPAH.

Sampah berserakan dimana-mana saat pawai berlangsung. PR besar bagi semua partisipan, pengarak ogoh-ogoh, penonton atau semua orang Indonesia. Untuk lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan, buang sampah pada tempatnya. Kalau dibilang kampungan, orang kampung kadang lebih bersih daripada orang-orang kota yang gak kenal kebersihan. 
Semoga Nyepi 1938 membuat kita lebih baik lagi.

Rahajeng Rahina Wanti Warsa Anyar Nyepi 1938.
Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

5 comments :

  1. Endingnya cukup menyengat, mengingatkan kembali hebatnya supporter Jepang setelah menonton di stadion ramai-ramai membersihkan sampah.... budaya yang hebat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buang sampah pada tempatnya atau kebersihan itu seperti kebudayaan, om. Antara kita praktekan dikehidupan sehari-hari, atau cuma jadi bahan legacy aja.
      Salam bersih! :D

      Delete