Emik dan Perpustakaan Perahunya Masih Terus Berjuang

Saya sempat membahas siapa Emik di salah satu postingan FB pada December 2015. 

Perpustakaan perahu Safinatun Najah adalah perpustakaan berjalan dengan desain perahu yang digerakan oleh sepeda motor. Hari itu, perpusatakaan Safinatun Najah tidak berlabuh, karena sedang diperbaiki, "di-las" katanya Emik. Emik bilang, perahu sudah keropos, kayu nya mulai rapuh. Kalau dipaksakan berlayar juga dipastikan akan rusak saat dijalan. Perbaikan ini juga membutuhkan biaya yang cukup besar buat Emik. Dua juta rupiah. 

Perpustakaan Safinatun Janah adalah salah satu cara Emik menunjukan nasionalismenya. Pria yang saya kenal di Jambore Relawan ini memang hanya lulusan sekolah dasar. Sifatnya sangat sederhana, tapi mimpi dan cara hidupnya luar biasa. Safinatun Najah biasa berlayar didaerah Tegal Gubug, Arjawinangun, Cirebon. Salah satu teman yang sudah bertemu Emik mengatakan, bahwa keluarga Emik tidak memiliki kesulitan ekonomi yang berlebihan seperti yang diberitakan dibeberapa tulisan. Tetapi Emik, memilih jalannya sendiri. Menyadari bahwa dirinya hanyalah lulusan sekolah dasar, Emik berjuang dengan caranya sendiri untuk hidup. Ditengah kesibukannya sebagai kuli panggul dipasar boneka, kenek truk, atau kuli bangunan, Emik masih sempat memikirkan bagaimana semua anak didaerahnya untuk mengenal dunia lewat membaca. Safinatun Najah artinya Perahu Penyelamat. Hari itu, beberapa teman membantu saya untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan Emik untuk segera melabuhkan kembali Safinatun Najah. Tuhan selalu tersenyum manja jika melihat dan mendengar desah doa hambanya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. :)

Safinatun Najah setelah perbaikan. Menjadi lebih unik. 
Saya rasa tidak akan mudah melupakan Emik. Yang pernah membuat kita sama-sama bergerak membantu mewujudkan mimpinya, mimpi kita, mimpi para manusia Indonesia yang selalu berjuang untuk perubahan. Sudah hampir dua bulan, saat ini April 2016, mimpi yang sama-sama kita perjuangkan itu terwujud. Perpustakaan Perahu Safinatun Najah berlabuh lagi. Dengan gagah dan penuh percaya diri, dan percaya "mimpi", Emik membawa perpustakaan perahu nya keliling daerah Arjawinangun dan sekitarnya. Kali ini ia tidak sendiri, didukung oleh berbagai teman-teman volunteer dari berbagai daerah setempat dan dekat dengan daerahnya. Emik dan kawan - kawan melakukan syukuran dan melabuhkan kembali perpustakaan Safinatun Najah. Emik dan teman-teman relawan bergerak bersama. Lebih banyak yang bergerak, lebih besar dan luas perubahan yang akan terjadi. Seharusnya. 

Aktifitas Emik saat berkeliling dengan Safinatun Najah

Lebih dari sekedar berkeliling dengan perahu perpusatakaannya. Tapi mimpi kecil itu, menjadi besar. Tidak ada mimpi yang kecil sebenarnya, tapi niatan sederhana yang didukung oleh semesta, itulah yang menjadikannya luar biasa. Saat ini, tidak hanya perpustakaan perahu, tetapi Emik juga mengelola sebuah Taman Baca, Suropati. Yang didirikan tidak jauh dari rumahnya. Tanah yang didapat dari pemerintahs setempat, dan dibangun dengan bantuan tenaga relawan. Mimpi Emik, mimpi kita sudah lebih besar lagi. Seharusnya. 
Taman Baca Suropati
Seharusnya? 
Ada yang bilang, semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpanya. Begitulah Emik dan mimpi nya. Taman Baca Suropati dibangun didaerah aliran sungai. Ternyata, tidak ada hitam diatas putih. Daerah aliran sungai memang bahaya apabila ditelisik dari aturan teknik sipil. Bangunan yang ada diatasnya akan terkena dampak bahaya erosi dari aliran sungai. Orang-orang kecil seperti Emik memang selalu menjadi korban. Kali ini, saya melihatnya seperti analogi menanam pohon. Pemerintah setempat melihat semangat Emik yang menggebu-gebu mengembangkan taman baca, lalu mereka memberikan harapan "sepetak" tanah untuk harapan Emik. Rencana pembangunan disiapkan, bangunan didirikan, perayaan dilangsungkan untuk merayakan mimpi besar lainnya, lalu dinikmati bagi yang memang pantas. Pohon itu adalah taman baca Suropati, pupuknya adalah "support pemerintah setempat". Lalu saat pohon tersebut tumbuh, mereka tebang, lalu membakarnya. Siapa yang hatinya tidak perih melihat mimpi semulia itu dihancurkan sekejap mata? Taman baca Suropati lemah dimata hukum karena tidak ada hitam diatas putih, perjanjian dan formalitas a'la birokrasi yang berjalan. Ini lah kesempatan dimana angin mencari celah untuk merobohkan. Rasa-rasanya pantaslah kita untuk saling mengingatkan, bahwa segalanya perlu hitam diatas putih. Sebagai bahan pembuktian. Orang-orang seperti Emik selalu menjadi korban. Waspadalah. Tidak mungkin Emik berdiam diri, tidak mungkin teman-teman relawan  acuh atas hal ini. Mereka sedang bergerak, masih bergerak walaupun taman baca Suropati sudah diberi tanda "X" jelas Emik. Tanda bangunan yang disegel dan siap dirubuhkan. 
Aktifitas yang dilakukan di taman baca Suropati

Katanya, ada hal sederhana yang bisa kita lalukan, yang caranya sangat mudah, tapi powerful bagi segalany, yaitu Doa. Mungkin bagi kita yang tidak bisa bergerak lebih seperti saya, kamu dan kita, doa menjadi salah satu dukungan moril bagi Emik dan teman-teman yang sedang berjuang bagi mimpi-mimpi untuk membuat semua anak-anak di Indonesia gemar membaca. Mimpi yang sedang diperjuangkan banyak orang. Saat ini, Safinatun Najah adalah harapan kuat Emik untuk tetap hidup dan bermimpi besar. Walaupun sembari memperjuangkan "Suropati". Manusia dikatakan hidup apabila ia dan hidupnya memperjuangkan mimpi nya. Semoga saja Emik akan terus berlayar dengan Safinatun Najah.

Karena bagi Emik, berbagi adalah Lillahi Ta'ala. Hanya karena Allah semata. 
Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

9 comments :

  1. Wiiiih keren euy, inspiratif sekali. Di indramayu juga ada komunitas literasi macam ini. Namanya bintang book corner, bisa dibaca disini http://www.indramayu.asia/2015/12/bintang-book-corner-indramayu.html
    Barangkali kpn2 bisa sharing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Bang Doel.
      Literasi macam ini memang harus digalakan di daerah2, jadi teman2 didaerah sama berkembangnya dengan yang di kota besar.
      Oia? saya juga kenal dengan teman-teman relawan asal Indramayu, Pancadarma Indramayu.
      Mungkin bang Doel dan Emik bisa sama2 bertukar pengalaman, bisa menghubungi Emik via FB nya "Emik Street Limawatt".

      Salam.

      AnakAyamBerjalan. :)

      Delete
    2. Anyway, sukses buat Bintang Book Corner. Semoga saya bisa ikutan acara piknik bukunya dilain waktu. :D

      Delete
  2. Semoga pohonnya mas emik ngga rubuh ya, semoga akarnya makin nancap kuat. Jikapun mesti tercerabut seenggaknya mereka masih mau mindahkan di tanah yang layak untuknya berkembang,semakin besar,semakin besar dan semakin besar. Amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah, doa yang keren.
      Terima kasih, Dany. Semoga kita jg bersemangat sperti Emik ya.

      Cheers.

      Delete
  3. Terima kasih sudah berbagi tentang ini, Kak Sari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah, terima kasih sudah mampir ka Naz. Semoga kita bisa selalu berbagi bareng kak.:)

      Delete
  4. Semoga makin banyak orang2 yg peduli dan ada emik2 yg lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. AMIN. Semoga kita jg peduli seperti Emik ya om.


      Makasihhhh udh mampir om! Mimpi apa gw semalam,blog disamperin om lebay. Hahaha.

      Delete