Ketika Bu Endang Cuti, Chef Diver!

Ketika bu Endang cuti, semua menganggap hari itu adalah hari "bahaya" untuk semua crew lapangan di AquaMarine. Crew lapangan, mulai dari driver, anak magang ingusan macam saya, dive master yang sangar, bahkan sampai dive instruktur nan gagah pun harus takluk di dapur! *Lol.
Ini lah hari bahaya bagi mereka. Kenapa?

Bu Endang adalah koki makan siang kami di AquaMarine. Berasal dari Banyuwangi membuat cita rasa masakan bu Endang tidak diragukan lagi. Wajar lah dia dinobatkan sebagai tukang masak masakan enak, pemadam kelaparan seluruh anggota AquaMarine. Termasuk enam anggota AquaMarine berkaki empat yang lucu-lucu itu. Jam kerja yang ketat membuat kami tidak sempat makan siang diluar kantor. Bukan hanya itu, berada ditengah-tengah jalan strategis nan elit membuat kami, para anggota sulit menemukan makanan siang yang bersih dengan harga terjangkau. Di kanan-kiri jalan adalah restaurant berbintang, bar/tapas, kafe hang out yang jelas tidak akan memuaskan rasa lapar kami yang porsi makannya selalu super (super banyak nasinya, haha). Mungkin ini alasan kenapa kantor saya memberikan benefit makan siang dari kantor. Disamping kebersihan yang terjaga, cita rasa yang jelas nikmat hasil olahan bu Endang, tapi juga kemudahan makan siang.

Apa yang spesial dari masakan bu Endang. Jelas, masakan bu Endang enak! Bukan sekedar enak karena kami lapar, tapi karena kami tidak pernah bosan dengan lauk yang dimasak bu Endang. Lauk yang sama baru bisa kami temui lagi di dua atau tiga minggu kedepan.

Day Off,

Hari libur bu Endang pasti di hari Minggu. Beda dengan kami para crew lapangan dan crew office, jadwal off kami ditentukan berdasarkan request atau keputusan departemen scheduling, direktur operasional. Semua crew lapangan akan selalu harap-harap cemas setiap hari sabtu. Biasanya harap-harap cemas sih buat orang-orang yang nunggu kabar gembira. Berbeda dengan disini, mereka harap-harap cemas untuk tau siapa orang malang yang harus memasak di hari Minggu! Hahaha. Yess, semua crew lapangan akan merasa selalu sial kalau dapat jadwal memasak di hari Minggu. Crew lapangan didominasi oleh pria maskulin. Untuk saat ini saya yang paling feminim. Stereotipe basi masa kini, yang seharusnya didapur adalah wanita. Padahal chef terkenal ala restoran bintang lima dan diamond didominasi oleh pria.

Jamur saus tiram, ala chef Roi dan asistennya. 

Awalnya sial bagi saya, bukan bermaksud mengaku bahwa saya tidak bisa masak, tidak siap-lah alasan yang pali tepat (many excuses!). Lalu tibalah giliran saya untuk memasak karena bu Endang cuti - pulang kampung. Ohh bumbu instan yang maha hebat, terima kasih. Terus-terusan saya panjatkan doa terima kasih pada bumbu instan yang sungguh meringkan beban dapur. Walaupun tetap ribet untuk kupas wortel, kentang, cabai dan semua jenis bumbu dapur tambahan, tetap lah bumbu instan memudahkan. Berjalan diselal-sela rak bumbu masak di supermarket, rasanya inspirasi memasak datang dari segala penjuru arah. 


Memasak untuk 13 orang ternyata tidak sesulit yang awalnya saya bayangkan. Katanya paling gampang itu masak air, indomie atau masak nasi. SIAPA BILANG?! Masak nasi untuk 13 orang itu ternyata susah lho. Hari itu seluruh tim harus merasakan nasi setangah matang. Hahaha, maaf ya tim. Saya yang dibantu Roi memasak kari ayam dan steam cheese tofu. Entah darimana wangsit itu datang, ide cheese tofu jadi pilihan karena saya dan beberapa teman suka keju. Dan tak lama, tibalah giliran buddy saya si Roi, karena jatah libur bu Endang di hari minggu. Disuruh masak, kaya disuruh pakai make-up ke kantor, berisik menolak tak terima tapi tak mampu menolak jua. Hahaha. Chef Roi, walaupun paling jago masak, masak indomie dikosan, tetap stuck mikirin besok masak apa. Alhasil asistennya yang baik hati (baca ; si penulis), tanpa diminta pun membantu dengan iklas karena kasian.  Kali itu chef Roi memasak Ayam Kalasan dan Jamur saus tiram, hasil berdiskusi dengan asistennya. Proses memasak yang seru, karena dapur jadi full musik dubstep, EDM (electronic dance music), sambil joget-joget kaku ala cowok yang gak bisa masak tapi akhirnya memasak jua. Lalu bagaimana hasilnya? Voilaaa, Ayam Kalasan nikmat, hasil 3 kali proses memasak pun jadi favorit sekantor! Hahaha. 

Chef Roi berfoto dengan masakan asistennya, eh salah, dengan masakannya.

Lagi dan lagi, nasi masakan kami pun tak pernah sesempurna dengan nasi masakan bu Endang. Kali ini nasi matang, terlalu matang malah. Lembek, karena chef Roi sedang diharuskan makan nasi lembut pasca sakit. Cihhh, alasan.

Lesson Learned. 
Dari awal kerja disini, setelah makan, saya selalu mengucapkan terima kasih ke bu Endang. Dari memasak, saya bisa merasakan bagaimana bentuk apresiasi para penyantap. Bahagia itu bisa melihat seporsi nasi dan lauk habis disantap oleh teman-teman. Lalu sesederhana tidak ada yang komplain mengenai nasi, atau masakan yang terlalu pedas, ataupun komen lainnya. Lalu apa sulitnya mengucap syukur dari secuil berkah Tuhan hari ini? Seporsi makan siang nikmat. Nabi Muhammad bilang, kalau tidak suka masakan yang dihidangkan oleh tuan rumah, tinggalkan, tidak usah dihabiskan. Tapi jangan pernah komplain. Karena setiap makanan  adalah berkah. 

"Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar"

HAPPY MEAL.... *slurpppp.


Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

4 comments :