Mingling with the Local - Bali I


Diakhir Maret 2015, saya memberanikan diri untuk pergi ke Tulamben dari Denpasar dengan transportasi lokal. Menuju Ubud dari Tulamben dengan gratisan dan melakukan semua aktivitas seperti orang lokal lakukan. Tujuannya hanya satu, agar para diver gembel(baca;kere) seperti saya tetap berbahagia berbekal kemampuan beradaptasi tingkat dasar (baca; less money)! Dan ini lah cerita saya! (Forza diver gembel!) :D

 Day dreamer on Tulamben beach

Pesawat saya mendarat di Bali jam 00.25, di Bandara Ngurah Rai, Wawan, teman baik yang juga merangkap ojek guide saya sudah menunggu daj 1jam yang lalu. Awalnya ibu saya yang berkenalan dengan Wawan saat ke Bali. Seorang karyawan toserba di Bali ini dengan ramah menawarkan jasa "mengantar" ibu saya untuk jalan-jalan kemanapun di Denpasar. Lalu ibu saya merekomendasikan Wawan untuk memudahkan transportasi saya selama di Bali. Mengawali hari dengan merencanakan "what-to-do" di kafe kopi sederhana rekomendasi teman saya, menikmati suasana sepi ala Denpasar ditemani Hazelnut Latte benar-benar menenangkan. Hari pertama di Bali saya habiskan untuk muter-muter Bali. Pantai pastinya, walau terkesan sangat mainstream, saya terpaksa harus ke pantai Sanur untuk bertemu teman dan melihat tempat yoga yang sudah saya incar. Sesuai dugaan saya, pantai di Kuta maupun Denpasar memang tidak semenarik yang selalu orang bilang. Kesadaran turis dan masyarakat lokal untuk menjaga kebersihan yang sangat rendah membuat pantai-pantai ini sangat kotor. Air pantainya tidak biru seperti yang dulu diceritakan, pantai ini menjadi sangat komersil dan tidak nyaman dijadikan tempat untuk bersantai. So, hanya singgah 1 jam, berjalan menyusuri Sanur, melihat toko penjual souvenir, saya langsung bertolak ke kedai makan halal.

A cup of Hazelnut Latte on Coffee shop nearby

Warung makan ini sangat ramai disinggahi para orang-orang lapar seperti saya. Gak hanya warga lokal, para turis (yang sepertinya sudah tinggal lama di Bali) sepertinya terbiasa makan disini. Pemilik warung ini berasal dari Jawa Timur. Sulitnya mendapatkan makanan halal di Bali membuat saya selalu singgah ditempat ini. Konsep cara makan nya pun berbeda, kita memilih menu apa saja, minuman dan cemilan lainnya. Lalu pelayan akan memberikan kartu yang menunjukan harga total dari makanan yang diambil. Setelah selesai makan, kartunya ditunjukan ke kasir dan kasir akan merujuk kartu itu ditambah minuman atau cemilan lainnya yang belum dihitung. Kata ibu saya makanannya murah, tapi selama saya makan disini minimal 20ribu rupiah keluar dari kantong. Bukan karena ternyata harganya mahal, tp saya memang kalap! Haha. (Lupa ambil foto! Nyusul deh kalo ke Bali lagi, hehe)

Wall of Uluwatu

Setelah makan dari warung, saya dan Wawan langsung bertolak ke Uluwatu. Wawan ini masih terbilang sangat baru dalam antar mengantar. Asalnya dari Lombok, merantau ke Bali untuk mendapatkan kerja yang lebih baik. Karena keterbatasan Wawan dalam mencari arah ke Uluwatu, dan saya yang gatel pengen nyoba nyetir motor di kota baru, jadilah saya yang nyetir dan menggunakan GPS (gunakan penduduk setempat, bertanyalah!). Hehe, berasa jagoan gitu, cewe ngeboncengin cowo, pulang-pergi.
Pintu Masuk Pura Uluwatu

Pura Uluwatu

Uluwatu cantik sekali. Pemandangan dan komplek pura nya memang pantas untuk dikunjungi sebagai objek wisata. Dari pintu masuk Uluwatu sama seperti candi-candi dipulau Jawa, kita akan dipinjamkan kain dengan corak batik untuk menutupi bagian bawah tubuh, hanya dililitkan untuk menjaga kesopanan di tempat suci ini. Karena dikelilingi hutan, banyak monyet liar berkeliaran diarea depan Uluwatu. Saya berjalan dibibir tebing mengelilingi pura Uluwatu. Pemandangan lepas pantainya memang luar biasa kalau dinikmati oleh penikmat laut seperti saya. Tak heran kalau banyak sekali pra-wedding photo yang diadakan disini. Menjelang sunset selalu diadakan pertunjukan tarian Kecak disini. Sayang saya harus melewatkannya, karena keduluan niat ikut sunset yoga for free di lapangan Renon.

Jalan setapak menyusuri hutan kecil di Pura Uluwatu
Lelah menjelajahi Uluwatu yang terletak di Badung tidak menyurutkan niat saya untuk ikut sunset yoga di lapangan Niti Mandala Renon. Ternyata jaraknya super jauh ya dari Badung - Denpasar. Sampai di Renon badan saya sudah berkeringat, cepel kata orang jawa (lembab). Yoga ini diprakarsai oleh komunitas Seger Oger. Kalau dijakarta ada Komunitas Yoga Gembira (Yogem), di Bali ada Seger Oger. Yoga dilakukan setiap hari, pagi & Sore, pagi jam 7-8 am wita, sore jam 5-6 pm wita. Saya bisa menyimpulkan warga Bali suka berolahraga, karena dua kali saya kesini selalu ramai orang. Banyak yang jogging dan banyak yang Yoga. Yoga disini FREE OF CHARGE (Forza gratisan!!). Para yogi hanya memberikan sumbangan seikhlasnya saat kantong sumbangan diputar. Tidak hanya uang, salah seorang ibu memberikan jamu jualannya untuk disumbangakan, lovely ya. Saya berkenalan dengan seorang ibu yang ikut ber-yoga sore itu. Saya diundang untuk mampir kerumahnya, ibu Narsih memiliki bisnis kue kering. Adiknya memiliki bisnis tekstil yang sering melakukan pameran di Jakarta. Jadi waktu ngobrol nyambung deh ngobrolin Indonesia Fashion Week. Hehe. Sayang saya tidak sempat mampir karena harus segera pulang untuk dinner bersama teman yang juga menjadi host saya hari pertama. Bu Narsih meneraktir saya jamu yang dijual oleh ibu penjual jamu tadi. Jamu beras kencur + kunyit menjadi awal pertemanan saya dan ibu Narsih. :) 
Lapangan Mandala Niti Renon, Sunset Yoga



Biaya Pengeluaran (Day 1) ;

- Ojek Wawan Day 1 - Day 2 ; Rp. 100.000
- Lunch - Dinner                    : Rp,   50.000
- Uluwatu ticket                     : Rp.    10.000
- Akomodasi                          : Rp. 0 (Numpang nginep donk! :D)

Pesawat PP : Rp. 1.100.000 (promo)
Share on Google Plus

Tentang Widya Hapsari

@sobatkolong warrior | OPEN WATER-ISO |Meter Diatas Permukaan Laut | MOCCAREO | DREAMER.

0 comments :

Post a Comment